EKSPOSTIMES.COM – Southampton resmi terdegradasi dari Liga Primer Inggris setelah kekalahan telak 3-1 dari Tottenham Hotspur pada Sabtu malam di Stadion Tottenham Hotspur.
Kekalahan ini tak hanya memastikan nasib mereka kembali ke Championship, tetapi juga mencatatkan sejarah kelam sebagai tim pertama yang terdegradasi dengan tujuh pertandingan tersisa di musim kompetisi.
Kekalahan tersebut menjadi yang ke-25 dari 31 pertandingan yang telah dijalani Southampton musim ini. Performa buruk yang konsisten sepanjang musim membuat klub asal pantai selatan Inggris itu tidak pernah lepas dari zona degradasi, dan kekalahan dari Spurs menjadi pukulan terakhir bagi mereka.
Tottenham sendiri tampil dominan dalam laga ini. Brennan Johnson membuka keunggulan tuan rumah pada menit ke-13 setelah menyambut umpan silang Djed Spence dengan penyelesaian klinis. Johnson kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-42, memanfaatkan kesalahan lini belakang Southampton yang telah menjadi ciri khas mereka musim ini.
Meskipun Southampton sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Mateus Fernandes di menit ke-90, harapan untuk mencuri satu poin langsung pupus.
Baca Juga: Southampton di Ambang Degradasi dari Liga Premier Setelah Kekalahan dari Wolves
Di masa injury time, Welington melakukan pelanggaran terhadap Johnson di kotak terlarang, dan Mathys Tel dengan tenang mengeksekusi penalti untuk membawa Spurs unggul 3-1 dan memastikan tiga poin.
Pelatih Southampton, Ivan Juric, mengakui kenyataan pahit ini dalam konferensi pers pasca pertandingan.
“Tujuan kami sekarang adalah menghindari menjadi tim terburuk dalam sejarah Liga Primer,” ujarnya.
Saat ini Southampton hanya mengoleksi 10 poin, dan mereka hanya membutuhkan satu poin untuk menyamai rekor Derby County yang mencatatkan 11 poin pada musim 2007/08 yang terburuk dalam sejarah kompetisi.
Hasil ini sekaligus menjadi suntikan moral bagi Tottenham, yang sebelumnya menjalani empat laga tanpa kemenangan di liga.
Pelatih Spurs, Ange Postecoglou, bisa sedikit bernapas lega setelah kemenangan ini mengangkat posisi mereka ke peringkat ke-13 klasemen sementara dan membangun momentum positif jelang laga penting di Liga Europa melawan Eintracht Frankfurt.
Sebelum laga, suasana di luar stadion sempat memanas dengan ratusan penggemar Tottenham yang melakukan protes terhadap kepemilikan klub dan Ketua Daniel Levy. Namun, suasana berubah saat peluit pertama dibunyikan dan Spurs menunjukkan performa yang solid.
Untuk Southampton, musim ini merupakan ironi pahit. Hanya setahun sebelumnya, mereka meraih promosi ke Liga Primer lewat kemenangan dramatis di final play-off Championship melawan Leeds United di Wembley.
Saat itu, mereka mencatatkan 22 laga tak terkalahkan di Championship dan dianggap sebagai salah satu tim dengan potensi besar untuk bertahan di kasta tertinggi.
Namun, kenyataan di Liga Primer jauh berbeda. Minimnya konsistensi, pertahanan yang rapuh, serta kurangnya kreativitas di lini tengah menjadi faktor utama keterpurukan mereka.
Bahkan, dengan tujuh pertandingan tersisa, Southampton hanya berhasil mencetak 19 gol dan kebobolan lebih dari dua kali lipat jumlah tersebut.
Kekalahan di tangan Tottenham juga menempatkan mereka dalam daftar kelam bersama Sunderland (2005-06) dan Sheffield United (2020-21), sebagai tiga tim yang kalah 25 kali dari 31 pertandingan pertama mereka di Liga Primer.
Dengan degradasi yang kini telah resmi, fokus Southampton akan beralih ke bagaimana mereka bisa bangkit dan membangun kembali tim untuk bersaing di Championship musim depan.
Namun sebelum itu, mereka masih punya tujuh pertandingan yang tersisa tujuh laga yang bisa menentukan apakah mereka akan mencetak rekor memalukan baru, atau setidaknya menyelamatkan sedikit harga diri. (*/Red)













