EKSPOSTIMES.COM- Gonjang-ganjing internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bitung makin memanas usai penunjukan Adrianus Robert Pusungunaung sebagai Plt Ketua, Ferry Mamangkey sebagai Plt Sekretaris, dan Yappi Yakobus Letto sebagai Bendahara. Penunjukan yang sah secara organisasi ini justru disambut dengan narasi menyesatkan oleh segelintir pihak yang tak rela kehilangan panggung.
Adrianus Pusungunaung, jurnalis senior yang dikenal vokal dalam isu hukum dan kriminal, menyebut manuver-manuver tersebut sebagai bentuk kegelisahan mereka yang selama ini hanya menikmati jabatan tanpa legitimasi.
“PWI itu organisasi profesi nasional, bukan komunitas chatting. Jangan halusinasi jabatan. SK kami keluar dari PWI Pusat, bukan dari forum dadakan,” tegas Adrian kepada media, Kamis (1/5/2025).
Baca Juga: BMR Bergerak! Jhon A Waluyan Siap Kawal KLB PWI Sulut di Bawah Komando Maemossa
Penetapan Adrian dan timnya sebagai pengurus sah merupakan hasil keputusan struktural dari PWI Sulawesi Utara, yang mengacu pada SK resmi dari PWI Pusat. Perombakan ini bagian dari reposisi kepengurusan di 15 kabupaten/kota se-Sulut, menyusul diberhentikannya pengurus lama karena dianggap tidak loyal terhadap instruksi organisasi.
“Yang bikin gaduh justru yang sudah diberhentikan. Udah enggak punya jabatan, malah sibuk ‘pecat-pecat’ orang. Lucu sekali. Maling teriak maling,” sindir Adrian.
Tak hanya itu, Adrian juga membeberkan bahwa situs resmi PWI Bitung lama diduga dikelola oleh pendukung mantan Ketua Umum PWI, Hendry Ch. Bangun, yang telah dinyatakan dicopot oleh Dewan Kehormatan berdasarkan SK tertanggal 16 Juli 2024.
“Makanya kalau ada hoaks dari situs itu, abaikan saja. Bukan kanal resmi lagi. Kita tunggu klarifikasi dari PWI Pusat. Saat ini, itu lebih mirip blog pribadi daripada media organisasi,” katanya dengan nada sarkastik.
PWI Pusat sendiri telah mengeluarkan SK Nomor 134-PGS/A/PP-PWI/II/2025, yang menetapkan pencopotan Voucke Lontaan dan Merson Simbolon dari PWI Sulut. Sebagai pengganti, ditunjuklah Vanny Loupatty dan Ardison Kalumata sebagai Ketua dan Sekretaris PWI Sulut.
Dari sanalah muncul SK resmi No: 016/SK.PWI-SULUT/IV/2025, yang menjadi dasar penunjukan Adrian dan timnya di PWI Bitung.
“Ini soal marwah organisasi. Kami bukan menjatuhkan siapa pun, tapi mengembalikan kredibilitas PWI sebagai rumah wartawan profesional,” ujar Vanny Loupatty tegas.
Kepada seluruh anggota, Adrian menyerukan agar tetap solid dan tidak mudah terprovokasi isu liar. Ia menegaskan bahwa hanya tiga posisi struktural yang diganti, sementara anggota lainnya tetap aktif.
“Kalau KTA mati, laporkan. Mau gabung? Silakan, tapi tetap selektif. Ini PWI, bukan panggung stand-up comedy,” katanya lugas.
Dengan gaya khasnya yang tajam namun menggelitik, Adrian menutup pernyataannya: Jangan sampai wartawan berubah jadi buzzer.
“Kita ini penjaga etika informasi, bukan badut digital. Jangan bikin malu profesi hanya karena sakit hati kehilangan jabatan,” tandasnya. (riz)







