Peristiwa

Lucy Guo, Miliarder Termuda Dunia yang Salip Taylor Swift dan Tantang Stereotip Teknologi

×

Lucy Guo, Miliarder Termuda Dunia yang Salip Taylor Swift dan Tantang Stereotip Teknologi

Sebarkan artikel ini
Lucy Guo, miliarder muda pendiri Scale AI dan Passes, tersenyum dalam sesi wawancara di San Francisco
Lucy Guo, pendiri Scale AI dan Passes, dinobatkan sebagai miliarder perempuan termuda versi Forbes. Ia dikenal karena gaya hidup hemat dan terobosannya di dunia teknologi.

EKSPOSTIMES.COM- Di tengah dominasi kaum pria dan nama-nama besar pewaris kekayaan dalam daftar miliarder dunia, satu nama mencuri perhatian: Lucy Guo. Perempuan muda kelahiran 1994 ini resmi dinobatkan Forbes sebagai miliarder perempuan termuda di dunia yang sukses membangun kekayaannya dari nol bukan dari warisan keluarga, melainkan dari keberanian, inovasi, dan semangat bertarung di industri teknologi.

Di usianya yang belum genap 31 tahun, kekayaan Lucy telah menembus US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21,87 triliun (kurs Rp 16.825/US$). Nilai itu bahkan melampaui Taylor Swift, bintang musik global yang sebelumnya menyandang gelar perempuan terkaya dari dunia hiburan.

Baca Juga: Artis JF Diperiksa Terkait Dugaan Penyalahgunaan Etomidate, Polresta Bandara Soetta Masih Tunggu Pemeriksaan Lanjutan

Swift tercatat mengumpulkan sekitar US$ 1,2 miliar, sebagian besar dari royalti dan tur besar-besaran, termasuk penjualan albumnya. Namun, posisi itu kini digeser oleh Guo seorang dropout kuliah, pendiri startup AI, dan pengusaha ventura yang tetap hidup sederhana meski hartanya melimpah.

Lucy Guo lahir di Fremont, California, dari keluarga imigran Tiongkok yang bekerja sebagai insinyur listrik. Sejak kecil, ia menunjukkan minat besar terhadap komputer, walau awalnya hanya dianggap “candu game” oleh orang tuanya. Ketertarikan itu kemudian mengantar Lucy ke Carnegie Mellon University, meski ia memilih dropout demi mengikuti Thiel Fellowship dan membangun startup pertamanya.

Tahun 2016, bersama Alexandr Wang, Lucy mendirikan Scale AI, perusahaan yang kini bernilai miliaran dolar karena jasanya dalam menyediakan data pelatihan untuk sistem kecerdasan buatan. Guo mengelola sisi desain dan operasi, sementara Wang sebagai CEO. Namun, kerjasama itu tak bertahan lama Lucy dikeluarkan dari perusahaannya sendiri pada 2018.

Alih-alih tenggelam, ia bangkit. Lucy mendirikan Backend Capital, firma ventura yang membiayai startup tahap awal, serta merintis Passes, platform digital untuk monetisasi konten kreator.

“Saya belajar disiplin dengan cara paling keras: kurang tidur, bangun pagi, dan tetap bekerja sambil bersenang-senang. Sekarang saya juga belajar jadi DJ,” ujarnya kepada San Francisco Chronicle.

Yang membuat Lucy Guo istimewa tak hanya kekayaannya, tapi juga filosofi hidup hematnya yang jarang ditemui di kalangan miliarder muda.

Dalam wawancaranya bersama Fortune, ia mengaku masih memanfaatkan promo “beli satu gratis satu” di Uber Eats, mengenakan baju murah dari Shein, dan lebih sering diantar pakai Honda Civic tua milik asistennya ketimbang mobil mewah.

“Saya tidak suka buang-buang uang,” tegasnya.

Namun, bukan berarti ia anti kenyamanan. Lucy mengaku akan naik kelas bisnis jika harus terbang 16 jam atau membeli satu-dua gaun desainer untuk acara khusus. Tapi selebihnya, ia lebih suka hidup fungsional.

Keberhasilan Lucy Guo menandai titik balik penting dalam lanskap teknologi global sebuah dunia yang selama ini dikuasai pria dan dipenuhi bias gender.

Sebagai satu-satunya perempuan dalam kelompok miliarder muda mandiri versi Forbes, Guo menolak dijadikan simbol belaka. Ia ingin dikenal karena kemampuannya, bukan sekadar karena gender atau usianya.

Baca Juga: Han So Hee Diincar Bintangi Remake Korea The Intern, Rebut Peran Ikonik Anne Hathaway

“Saya melihat persaingan antarperempuan bukan sebagai hambatan, tapi dorongan untuk terus berkembang,” ujarnya dalam wawancara dengan Forbes.

Lucy Guo adalah potret generasi baru miliarder cerdas, berani, berdikari, dan tak terikat pada definisi tradisional sukses. Ia bukan hanya sosok inspiratif bagi perempuan muda di seluruh dunia, tapi juga bukti bahwa kedisiplinan, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko masih menjadi mata uang paling kuat dalam era digital. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d