EKSPOSTIMES.COM- Mesin birokrasi Pemprov Sulut kembali bergerak! Senin pagi, 23 Juni 2025, sebuah keputusan penting menghentak ruang pertemuan Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Dr. Denny Mangala, M.Si, resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), menggantikan Evans Steven Liow, S.Sos, MM, yang selama ini menjadi motor komunikasi pemerintahan.
Bukan sekadar rotasi, tapi langkah strategis. Penunjukan ini dinilai sebagai manuver penting Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE dalam menjawab tantangan zaman, di mana kecepatan informasi, serangan hoaks, dan disrupsi digital tak bisa lagi ditanggulangi dengan pendekatan konvensional.
Surat Keputusan diserahkan langsung oleh Gubernur Yulius, disaksikan oleh Sekprov Tahlis Galang dan Kepala BKD Dr. Jemmy Stani Kumendong, M.Si. Kumendong menyebut pergantian ini sebagai bagian dari “desain besar komunikasi publik Sulut”.
“Bukan penggantian biasa. Ini misi pembenahan,” tegasnya.
Nama Denny Mangala bukan nama baru dalam peta birokrasi Sulut. Pernah menjadi Asisten Pemerintahan Minahasa, Asisten III di Bolsel, Kepala Bappeda Boltim, hingga terakhir menjabat Penjabat Bupati Minahasa Tenggara, sosok ini dikenal sebagai eksekutor ulung, dengan rekam jejak tanpa sensasi tapi penuh prestasi.
Kini, Denny mengemban tugas vital: mengarahkan Kominfo Sulut sebagai benteng informasi rakyat dan pemerintah di tengah derasnya arus digitalisasi dan virus disinformasi yang makin ganas.
Gubernur Yulius menaruh harapan tinggi.
“Kami butuh figur yang tak hanya paham birokrasi, tapi juga bisa membaca denyut zaman. Denny punya bekal itu,” ujarnya lugas.
Langkah ini tak hanya menggugah internal Pemprov. Beberapa pengamat komunikasi dan tokoh masyarakat pun angkat suara. Mereka menyebut Kominfo butuh pemimpin baru yang mampu memperkuat transparansi, menjalin relasi sehat dengan media, dan meningkatkan literasi publik soal informasi yang benar.
Apalagi, posisi Kominfo kini tak bisa lagi dipandang sebatas jabatan teknis. Di era digital, Kominfo adalah tameng utama melawan kabar bohong, serta jembatan kepercayaan antara pemerintah dan rakyat.
Pertanyaannya kini: Mampukah Denny Mangala menjawab ekspektasi tinggi itu? Mampukah ia mentransformasi Kominfo jadi institusi yang gesit, terbuka, dan berpihak pada kebenaran?
Waktu yang akan membuktikan. Tapi yang jelas, misi sudah diemban, tantangan telah menanti, dan publik tak ingin menunggu terlalu lama. (riz)













