EKSPOSTIMES.COM- Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah. Namun, ironisnya, gedung wakil rakyat itu tampak lengang tanpa satu pun legislator yang hadir untuk mendengarkan suara mahasiswa.
Mengusung slogan “Ketika IMM sudah turun aksi, ini membuktikan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja”, aksi ini menjadi simbol keresahan mahasiswa terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin menjauh dari prinsip keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat kecil.
Dalam aksi tersebut, IMM Jawa Tengah mengajukan tujuh tuntutan utama yang dianggap krusial bagi perbaikan negeri:
1. Membatalkan program MBG, yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
2. Menolak pemangkasan anggaran pendidikan, demi menjamin masa depan generasi bangsa.
3. Mewujudkan reforma agraria sejati dan memberantas mafia tanah yang merampas hak petani.
4. Memperkuat KPK serta menangkap koruptor dan kroninya guna menciptakan pemerintahan yang bersih.
5. Mendesak DPR RI mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai alat hukum pemberantasan korupsi.
6. Menuntaskan kasus pelanggaran HAM, serta mengadili semua pihak yang terlibat tanpa pandang bulu.
7. Menindak mafia pupuk, yang dinilai merugikan petani dan mengancam ketahanan pangan nasional.
Ketua DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini merupakan panggilan moral mahasiswa untuk mengingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap rakyat.
“IMM lahir dari rahim umat dan bangsa. Jika kami turun ke jalan, itu pertanda ada persoalan besar yang tidak boleh dibiarkan. Kami menuntut pemerintah bertindak nyata untuk memperbaiki kondisi ini,” tegasnya.
Meski aksi mereka tak direspons langsung oleh anggota DPRD, para mahasiswa tetap menunjukkan keteguhan sikap. Demonstrasi ditutup dengan doa bersama, sebagai simbol harapan agar Indonesia segera terbebas dari korupsi, ketidakadilan, dan kebijakan yang merugikan rakyat.
“Sejarah membuktikan, suara mahasiswa tak bisa dibungkam. Ini baru permulaan. Kami akan terus berjuang sampai keadilan benar-benar ditegakkan!” seru salah satu orator sebelum massa membubarkan diri dengan damai. (Kepor)








