EKSPOSTIMES.COM- Perayaan Paskah dalam tradisi Israel merupakan sebuah momen monumental yang bukan hanya sekadar peringatan historis, tetapi juga simbol dari kemerdekaan sejati yang berasal dari karya penyelamatan Allah sendiri.
Dalam Keluaran 12:14, Allah memerintahkan umat Israel untuk merayakan hari itu secara turun-temurun, sebagai hari raya bagi TUHAN. Ini bukan perintah biasa, melainkan penetapan ilahi yang menyatakan bahwa peristiwa pembebasan itu harus senantiasa diingat, dirayakan, dan dimaknai.
Baca Juga: Tuhan Bisa Pakai Musuhmu untuk Mendukungmu (Keluaran 11:3)
Paskah adalah tanda bahwa bangsa Israel tidak dibebaskan oleh kekuatan mereka sendiri. Mereka tidak memiliki angkatan bersenjata, tidak punya kekuasaan politik, bahkan tak punya tanah air sendiri. Mereka hanyalah budak di negeri orang.
Namun, justru dalam ketidakberdayaan itulah kuasa Allah dinyatakan secara penuh. Allah bertindak secara langsung, dengan tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung. Ia menunjukkan siapa yang memegang kuasa atas kehidupan dan kematian, atas kerajaan manusia dan peristiwa sejarah.
Baca Juga: Ketika Firaun Mengaku Berdosa: Tulus atau Terpaksa? (Keluaran 10:16)
Paskah pertama di Mesir merupakan puncak dari sepuluh tulah, yakni tindakan penghakiman Allah atas Mesir dan sekaligus penyelamatan bagi Israel. Umat Israel diminta menyembelih anak domba jantan yang tidak bercela dan mengoleskan darahnya pada kedua tiang dan ambang atas pintu rumah mereka.
Ini bukan tindakan magis, melainkan simbol iman. Mereka menunjukkan kepercayaan kepada janji Allah—bahwa di tengah murka yang melanda Mesir, darah itu menjadi tanda pemisah antara mereka yang diselamatkan dan yang tidak. Tindakan itu bukan demi menimbulkan kesan mistis, melainkan ekspresi ketaatan dan penyerahan diri.
Baca Juga: Saat Tuhan Tidak Langsung Menghukum: Ada Apa di Balik Penundaan-Nya? (Keluaran 9:16)
Daging anak domba itu dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur pahit. Makanan yang tidak biasa itu berbicara tentang kondisi mereka: roti tidak beragi melambangkan ketergesaan dan kesiapan untuk pergi, sementara sayur pahit menggambarkan penderitaan perbudakan yang mereka alami. Paskah menjadi perjamuan simbolis yang mengingatkan akan kesengsaraan masa lalu, tetapi sekaligus juga janji kemerdekaan dan kehidupan baru yang segera tiba.
Namun, Paskah bukan hanya perayaan kolektif. Ia juga menuntut keterlibatan pribadi. Setiap rumah harus menyembelih domba sendiri, setiap keluarga harus ambil bagian. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya urusan bangsa secara umum, tetapi menyentuh setiap pribadi yang bersedia percaya dan taat.
Baca Juga: Renungan: Mengenal Tuhan di Tengah Dunia yang Menolak-Nya (Keluaran 5:2)
Dalam terang Perjanjian Baru, Paskah memperoleh makna yang lebih dalam. Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Dalam kematian-Nya di kayu salib, Ia menjadi penggenapan dari Paskah yang pertama.
Darah-Nya, yang tercurah bukan di ambang pintu, melainkan di kayu salib, menjadi tanda keselamatan yang baru. Bukan lagi sekadar membebaskan dari perbudakan Mesir, tetapi dari perbudakan dosa dan maut.
Di sinilah benang merah Paskah menjadi jelas. Baik dalam Keluaran maupun dalam Injil, Paskah berbicara tentang tindakan penyelamatan Allah yang penuh kasih. Bukan manusia yang memulai, bukan manusia yang mampu menyelesaikannya, tetapi Allah sendiri yang turun tangan. Dan bagian manusia adalah percaya, bukan secara pasif, melainkan dalam iman yang dinyatakan dalam tindakan: bersiap, berjaga, dan hidup dalam ketaatan kepada Allah.
Baca Juga: Tuhan Jawab Cepat, Kamu Balas Apa? (Keluaran 8:12–13)
Paskah bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ajakan untuk mengingat bahwa kemerdekaan sejati bukan berasal dari sistem dunia, tetapi dari karya penyelamatan Allah. Ia adalah panggilan untuk merespons dengan hidup yang terarah kepada Allah, hidup yang mencerminkan rasa syukur atas karya-Nya yang tak ternilai. Di tengah dunia yang penuh tantangan, Paskah tetap berseru: Allah menyelamatkan, dan karena itu, kita hidup bagi-Nya. (*/rizkypurukan)







