EKSPOSTIMES.COM – “Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti.” (Kejadian 46:4)
Bagian Alkitab ini menggambarkan peristiwa penting dalam kehidupan Yakub: keputusan besar untuk meninggalkan tanah Kanaan dan pindah ke Mesir, mengikuti anaknya Yusuf yang telah lebih dahulu menjadi orang besar di sana. Namun, langkah ini bukan tanpa pergumulan. Bagi Yakub, Mesir adalah tanah asing, penuh ketidakpastian. Tetapi Allah memberikan janji yang sangat menenangkan: “Aku sendiri akan menyertai engkau.”
Pernyataan Allah ini menegaskan bahwa bukan tempat yang membuat hidup menjadi baik, tetapi penyertaan-Nya. Ketika Allah menyertai, bahkan tanah asing bisa menjadi tempat pertumbuhan dan pemeliharaan. Janji bahwa tangan Yusuf akan menutup kelopak matanya menandakan penghiburan pribadi bahwa Yakub akan mati dalam damai, di dekat anak yang dulu ia kira telah tiada.
Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita melihat hikmat dan strategi Yusuf dalam mempersiapkan keluarganya bertemu dengan Firaun. Yusuf tahu bahwa orang Mesir membenci gembala kambing domba suatu fakta budaya yang bisa menjadi batu sandungan.
Namun, ia tidak menyuruh keluarganya menyembunyikan identitas mereka. Sebaliknya, Yusuf menasihati mereka untuk berkata jujur tentang pekerjaan mereka, sembari memperhitungkan konsekuensinya: mereka akan diizinkan tinggal di tanah Gosyen, tempat yang cocok untuk menggembala ternak dan jauh dari kehidupan kota Mesir yang mungkin akan memengaruhi iman mereka.
Dari bagian ini, kita bisa belajar bahwa Allah Menyertai, Bahkan di Tempat Asing. Ketika kita dipanggil untuk melangkah ke sesuatu yang baru—entah itu pekerjaan, kota, atau bahkan negara yang asing—kita bisa gentar dan ragu.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa penyertaan Tuhan tidak terbatas pada tempat atau situasi. Yakub pergi ke Mesir bukan karena tempat itu menjanjikan, melainkan karena Tuhan menjanjikan kehadiran-Nya di sana.
Sama seperti Yakub, kita pun bisa berjalan dengan iman, karena kita tahu Tuhan tidak hanya menyertai kita di tempat yang nyaman, tetapi juga di tempat yang belum kita kenal.
Baca Juga: Renungan: Allah yang Membalikkan Luka Menjadi Kehidupan, Kejadian 45:5
Yusuf tidak menyuruh keluarganya berpura-pura menjadi orang Mesir atau menyembunyikan profesi mereka. Meskipun menjadi gembala adalah kekejian bagi orang Mesir, kejujuran mereka justru membuka jalan bagi penempatan yang tepat: tanah Gosyen.
Dalam kehidupan kita, kadang kita tergoda untuk menyembunyikan identitas kita sebagai orang percaya atau nilai-nilai kita demi diterima oleh lingkungan. Namun kebenaran dan integritas seringkali justru menjadi jalan bagi Tuhan untuk bekerja.
Tanah Gosyen bukan hanya tempat “yang tersisa”, melainkan tempat strategis yang Tuhan sediakan. Itu adalah tanah subur, cocok bagi keluarga Yakub yang menggembala ternak, dan cukup jauh dari pengaruh budaya Mesir yang bisa merusak.
Dalam hidup ini, kadang kita tidak langsung memahami mengapa Tuhan menempatkan kita di posisi tertentu. Tapi seperti Yusuf, Tuhan kadang mempersiapkan tempat agar kita dan keluarga kita bisa bertumbuh, dilindungi, dan diperlengkapi.
Baca Juga: Renungan: Bertobat dan Berubah Sekarang Bukan Nanti, Roma 12:2
Dalam setiap perantauan, Tuhan tidak hanya menyertai, tetapi juga mengatur. Ketika kita jujur dan setia pada panggilan kita, Dia yang Mahatahu akan menempatkan kita di Gosyen yang tepat—tempat di mana kita bisa terus memelihara iman dan bertumbuh dalam rencana-Nya.
Marilah kita melangkah dalam keyakinan bahwa penyertaan-Nya lebih besar dari ketidakpastian mana pun. (*/rp)










