“Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”(Kisah Para Rasul 5:4)
EKSPOSTIMES.COM – Pada suatu hari ada empat orang anak sekolah sepakat membolos karena mereka merasa malas untuk membuat pekerjaan rumah. Keempat anak itu mencari alasan agar jika ditanya mereka dapat bebas dari hukuman. Masing-masing bersiap-siap menyusun alasan-alasan.
Mereka berempat telah sepakat mengatakan bahwa mereka terlambat karena ban mobil mereka pecah.
Setelah dikelas, pak guru bertanya “Kenapa kalian terlambat dan tidak menyerahkan pekerjaan rumah”
“Maaf pak, mobil yang kami tumpangi bannya pecah” jawab salah seorang dari mereka.
“Baiklah, karena kalian tidak memasukkan tugas maka sebagai gantinya Bapak akan memberikan ulangan kepada kalian. Bapak harap kalian menyiapkan kertas dan pensil agar kita segera memulai ulangan.” Kata pak guru.
Baca Juga Renungan Harian: Fokus Pada Tuhan Saja
Kepada mereka Pak Guru meminta untuk duduk berjauhan. Kemudian katanya, “Pertanyaan pertama, ban manakah yang bocor?”
Karena mereka berbohong maka jawabannya berbeda-beda, ada yang mengatakan ban sebelah kiri, ada yang bilang sebelah kanan dan ada yang bilang ban depan yang pecah. Pada akhirnya mereka berempat kedapatan berbohong.
Kisah Ananias dan Safira yang ditulis para rasul tentu menjadi pelajaran berharga. Berbohong kepada Roh Kudus adalah jalan kematian, bukan jalan menuju hidup kekal! Apalagi ketika dusta dikerjakan secara berjamaah, Tuhan yang kudus jelas tidak berkenan.
Ananias dan Safira pun meregang nyawa setelah dusta mereka terkonfirmasi di depan para rasul.
Dengan keras, Rasul Petrus berkata: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar” (ayat 9).
Baca Juga: Renungan Harian: Fokus Pada Tuhan Saja
Dikisahkan selanjutnya, Safira rebah seketika di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ia bernasib sama dengan suaminya yang telah mendahului tiga jam sebelumnya.
Hal ini tentu sangat mengejutkan banyak orang. Bahkan, seluruh jemaat pun ketakutan setelah mengetahui hal tersebut.
Kebohongan dilahirkan dari kondisi kurangnya iman selain dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran. Dua hal ini menjauhkan mereka dari rasa sehati sejiwa dengan kasih setia Tuhan.
Andai saja mereka tetap sehati sejiwa di dalam Tuhan, hidup mereka sudah pasti berada dalam topangan kasih setia Tuhan, Sang Maha Pengasih.
Apalagi, kasih setia Tuhan itu kekal, berbeda dari uang hasil menahan sebagian penjualan tanah yang fana. Sayangnya, mereka memilih jalan dusta, yang menandakan sikap pengkhianatan terhadap kasih setia Tuhan.
Kebohongan adalah tindakan yang merugikan. Terlebih kebohongan salah satu hal yang sangat dibenci Tuhan. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya melakukan kebohongan.
Sedari dini hindarilah diri kita dari yang namanya kebohongan. Belajarlah hidup dengan kejujuran.
Lebih baik disakiti dengan kejujuran daripada dibahagiakan dengan kebohongan. Kebohongan menyelamatkanmu sementara tetapi menghancurkan kamu selamanya. (*)










