Kejadian 17 menggambarkan peristiwa penting dalam kehidupan Abram. Pada usia 99 tahun, dengan Sarai yang sudah jauh melampaui usia melahirkan, Allah menampakkan diri kepada Abram dengan dua hal utama: pernyataan diri-Nya sebagai El Shaddai (Allah Yang Mahakuasa) dan tuntutan agar Abram hidup tidak bercela di hadapan-Nya.
Allah Yang Mahakuasa: Penggenapan Janji yang Mustahil
Allah memperkenalkan diri sebagai El Shaddai, yang berarti bahwa Dia berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang secara manusiawi tidak mungkin. Setelah menunggu 24 tahun sejak janji pertama dan 13 tahun setelah kelahiran Ismael, Allah tetap setia pada janji-Nya. Dia tidak terikat oleh batasan usia atau kemampuan manusia, melainkan bertindak berdasarkan kuasa-Nya sendiri.
Janji Allah bahwa Abram akan memiliki anak bukanlah sekadar harapan kosong, tetapi suatu kepastian yang akan digenapi oleh kuasa-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa ketika situasi tampak mustahil, kita harus tetap percaya bahwa Allah sanggup menggenapi firman-Nya (Roma 4:19; Ibrani 11:12).
Tuntutan Hidup Tak Bercela: Iman yang Berbuah Ketaatan
Allah tidak hanya memberikan janji, tetapi juga menuntut Abram untuk berjalan di hadapan-Nya dengan tidak bercela. Hidup yang tidak bercela berarti sepenuhnya mengabdi kepada kehendak Allah. Abram sudah menunjukkan iman dengan percaya kepada janji Allah, tetapi iman itu juga harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari melalui ketaatan (Roma 1:5).
Baca Juga: Renungan:Iman yang Diperhitungkan sebagai Kebenaran Kejadian 15:1-6
Kesinambungan berkat Allah tidak hanya tergantung pada janji-Nya, tetapi juga pada kesediaan kita untuk berjalan sesuai kehendak-Nya. Seperti yang dikatakan dalam Yakobus 2:26, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Abram harus menunjukkan imannya dengan ketaatan, karena hanya dengan demikian ia dapat mengambil bagian dalam rencana Allah yang kekal (Kejadian 22:16-18).
Hari ini kita diajarkan bahwa Allah Mahakuasa sanggup menggenapi janji-Nya, bahkan ketika segala sesuatu tampak mustahil. Iman yang sejati harus disertai dengan ketaatan, karena hidup yang tak bercela merupakan syarat untuk mengalami berkat-berkat Allah.
Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk percaya pada janji-Nya dan tetap setia berjalan di dalam kehendak-Nya. Jika kita menantikan jawaban atas doa atau janji Tuhan yang terasa tertunda, mari kita tetap berpegang teguh pada iman dan berusaha hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab, seperti yang tertulis dalam Matius 17:20, “Segala sesuatu mungkinn agi orang yang percaya.” (*/Rizky)







