EKSPOSTIMES.COM- Buku karya Paul Sudiyo berjudul “Kisah Kasih di Tanah Papua” resmi diluncurkan dalam acara Temu Alumni ke-4 Binaan Yayasan Binterbusih yang digelar di Hotel Grand Candi, Semarang, Sabtu-Minggu (23-24 Agustus 2025).
Mengusung tema “Persaudaraan Sejati menembus gunung-gunung, lembah-lembah, dan pesisir pantai menuju Papua yang damai, adil, dan sejahtera,” acara ini dihadiri lebih dari 200 alumni dari berbagai daerah di Tanah Papua maupun kota besar lainnya di Indonesia.
Ketua panitia Yosep Gebze menyebut acara ini dipersiapkan berbulan-bulan dengan dukungan para alumni yang kini berkiprah sebagai kepala daerah, menteri, hingga profesional lintas sektor.
Hadir sebagai pembahas utama, Prof. Dr. Mompang L. Panggabean, SH., M.Hum., Guru Besar Fakultas Hukum UKI, yang memberikan ulasan mendalam terkait latar belakang karya tersebut. Menurutnya, buku Paul Sudiyo tidak hanya menjadi catatan pelayanan pribadi, melainkan juga cermin nilai persaudaraan sejati di Papua.
Baca Juga: Murid Papua Harumkan Upacara HUT ke-80 RI! Kisah Haru, Bangga, dan Semangat Paskibra di Jakarta
“Buku ini baru jilid pertama. Harapan kita, ke depan lahir karya-karya serupa yang terus menyalakan semangat pelayanan tanpa pamrih demi Papua yang sejahtera,” ujar Prof. Mompang, Minggu (24/8).
Ia juga menyampaikan lima catatan penting terkait isi buku tersebut. Pertama, secara teologis-filosofis buku ini dapat dibaca sebagai perjalanan menemukan Tuhan dalam kasih di Tanah Papua. Kedua, kisah pelayanan Paul Sudiyo digambarkan sebagai wujud kasih yang menggugah hati, pikiran, serta menjadi agen perubahan di pedalaman Papua.
Ketiga, pengalaman spiritual dan perjumpaan Paul dengan para tokoh misionaris seperti Mgr. Herman Munninghoff hingga Br. Henk van Mastrigt, menjadi penguat panggilannya. Keempat, sikapnya yang menolak terjun ke dunia politik menegaskan pilihannya untuk fokus pada pendidikan dan pembangunan manusia Papua. Kelima, buku ini menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi baru yang mau memberi diri demi kemajuan Papua di berbagai bidang.
“Papua bukan hanya kaya alam, tapi juga kaya budaya dan kearifan lokal. Tugas kita adalah melahirkan Paul-Paul Sudiyo baru yang memberi diri bagi pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan politik,” tandasnya. (lian)







