EKSPOSTIMES.COM- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Raja Juli Antoni menegaskan komitmen pemerintah dalam merevolusi sektor kehutanan dan energi melalui penanaman pohon aren. Dalam kunjungannya ke Kebun Aren di Dusun Cisarua, Kabupaten Garut, Sabtu (10/5/2025), Menhut menyebut bahwa pohon aren adalah ‘pohon ajaib’ yang kini menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
“Pak Presiden sangat menyukai pohon aren karena seluruh bagian pohon ini punya nilai ekonomi dan ekologis tinggi. Dari akar hingga pucuk, semua bisa dimanfaatkan,” ungkap Raja Juli.
Baca Juga: Setelah 18 Tahun, Eksekusi Fisik Lahan PT Torganda di Paluta Akhirnya Terwujud
Dalam tinjauan langsung itu, Menhut didampingi oleh pakar konservasi dunia, Willie Smits, serta para pejabat utama KLHK seperti Dirjen PDASRH Dyah Murtiningsih dan Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko. Pemerintah melihat aren sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan membuka lapangan kerja hijau secara masif.
“Dari satu hektare kebun aren yang dikelola optimal, kita bisa hasilkan hingga 24 ribu kiloliter bioetanol. Bayangkan bila kita kelola sejuta hektare, Indonesia bisa mandiri energi,” jelas Raja Antoni penuh semangat.
Bioetanol dari nira aren digadang-gadang jadi energi terbarukan yang ramah lingkungan dan mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, produk turunan aren seperti ijuk, kolang-kaling, dan gula semut juga bernilai ekspor tinggi.
Menteri Antoni mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan instruksi khusus untuk segera memulai penanaman pohon aren secara nasional. Tahun ini ditargetkan lahan seluas 300 ribu hektare ditanami sebagai bagian awal dari misi besar menanam 1,2 juta hektare.
“Ini bukan sekadar proyek lingkungan, tapi bagian dari strategi ketahanan pangan, energi, dan pemberdayaan masyarakat desa,” katanya.
Baca Juga: Menteri Sosial Gus Ipul dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Berkolaborasi Entaskan Kemiskinan
Penasihat Utama Menhut, Willie Smits, memaparkan alasan ilmiah mengapa aren sangat relevan untuk Indonesia. Akar dalam membuatnya tahan kekeringan, sedangkan produktivitas ekonominya luar biasa.
“Satu pohon bisa hasilkan Rp2 juta dari ijuk saja. Bahkan di musim kemarau, dia tetap panen. Kolang-kaling pun bisa bantu penuhi kebutuhan pangan,” terang Smits, yang selama ini dikenal aktif dalam program reforestasi berbasis masyarakat. (tim)












