EKSPOSTIMES.COM- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak luas, kali ini mengancam kelangsungan babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Serangan Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar dan Irak pada Senin malam, 23 Juni 2025, sebagai respons atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, membuat situasi keamanan di kawasan itu kian genting.
Kondisi ini secara langsung mengancam Qatar sebagai salah satu tuan rumah kualifikasi bersama Arab Saudi. FIFA dan AFC kini menghadapi dilema besar: mempertahankan venue dengan risiko keamanan tinggi, atau mencari lokasi alternatif yang lebih stabil.
Baca Juga: Demi Darah dan Tanah Air, Iris de Rouw Resmi Jadi WNI, Siap Kawal Gawang Garuda Pertiwi
Akibat serangan tersebut, sejumlah negara telah menutup jalur penerbangan ke kawasan konflik, mempertegas situasi yang tidak kondusif bagi perhelatan olahraga internasional.
Sesuai jadwal, babak keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia akan berlangsung pada 8–14 Oktober 2025. Enam negara akan bersaing: Indonesia, Qatar, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab. Namun jika situasi terus memburuk, FIFA dan AFC diperkirakan akan mengumumkan keputusan final soal lokasi pertandingan paling lambat akhir Agustus atau awal September 2025.
Melihat situasi itu, pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali angkat suara. Ia menilai Indonesia layak mengajukan diri sebagai tuan rumah alternatif karena dianggap jauh dari pusat konflik dan memiliki infrastruktur serta keamanan yang memadai.
“Situasi Timur Tengah tidak pasti, tidak aman, dan tidak nyaman. Ini saat yang tepat bagi Indonesia untuk mengajukan diri menjadi tuan rumah pengganti,” ujar Akmal, Koordinator Save Our Soccer (SOS), Rabu (25/6).
Akmal mendesak Ketua Umum PSSI Erick Thohir untuk segera bertindak cepat dengan mengirim surat resmi ke AFC dan FIFA. Menurutnya, keselamatan pemain dan ofisial harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.
“Sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Ini soal kemanusiaan. Sepak bola harus menjaga nyawa para pelakunya,” tegasnya.
Indonesia, lanjut Akmal, menjadi satu-satunya negara peserta di babak keempat yang berada di luar kawasan Timur Tengah. Letak geografis yang aman, stabilitas politik, serta kesiapan stadion menjadi keunggulan tersendiri.
“Inilah momen Indonesia menunjukkan peran strategisnya di sepak bola Asia dan dunia. Jarak yang jauh dari konflik menjadikan Indonesia tempat yang paling logis dan aman,” katanya.
Baca Juga: Imbangi Yaman, Timnas U-20 Indonesia Lolos ke Putaran Final Piala Asia
Ia pun menegaskan pentingnya menyuarakan hal ini sebelum pengundian resmi babak keempat pada 17 Juli 2025 di Malaysia.
“Ketua PSSI harus bergerak sekarang. Demi masa depan sepak bola, demi keselamatan semua pihak yang terlibat,” tutup Akmal.
Jika Indonesia serius mengajukan diri, bukan tidak mungkin sejarah baru tercipta: Indonesia menjadi tuan rumah krusial menuju Piala Dunia, sekaligus simbol bahwa sepak bola harus tetap berdiri di atas nilai-nilai perdamaian. (*/tim)













