EKSPOSTIMES.COM – Peristiwa menara Babel menggambarkan perbedaan mencolok antara mereka yang hidup menurut kehendak Allah dan mereka yang mengandalkan kekuatan sendiri. Setelah air bah, manusia diperintahkan untuk memenuhi bumi (Kej. 9:1), tetapi mereka justru berkumpul dan membangun menara untuk menentang Allah. Ini mencerminkan sifat manusia yang cenderung sombong, ingin mandiri dari Tuhan, dan berusaha mencapai kemuliaan dengan cara sendiri.
Orang-orang Babel ingin membangun sebuah menara yang mencapai langit untuk “membuat nama bagi mereka sendiri” (Kej. 11:4). Ini mencerminkan kesombongan dan ambisi duniawi yang menolak ketergantungan kepada Tuhan.
Tetapi Allah mengacaukan bahasa mereka dan mencerai-beraikan mereka, menunjukkan bahwa rencana manusia tidak akan pernah berhasil jika bertentangan dengan kehendak-Nya.
Mereka bersatu bukan untuk memuliakan Tuhan, tetapi untuk menolak perintah-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa tidak semua persatuan itu baik jika tidak sejalan dengan kehendak Allah. Persatuan yang benar adalah yang dibangun dalam ketaatan kepada firman Tuhan, bukan untuk mencari kemuliaan diri sendiri.
Tuhan tidak melarang manusia membangun kota atau berorganisasi, tetapi Dia menentang setiap usaha yang didasarkan pada keangkuhan dan pemberontakan terhadap kehendak-Nya. Ketika kita merencanakan sesuatu dalam hidup, kita harus selalu bertanya: Apakah ini untuk kemuliaan Tuhan atau hanya untuk kebanggaan diri sendiri?
Sejarah Babel mengajarkan kita bahwa tidak ada rencana yang akan berhasil jika bertentangan dengan kehendak Allah. Keangkuhan membawa kehancuran, tetapi ketaatan kepada Tuhan membawa berkat. Mari kita hidup dalam ketaatan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kita, bukan mengandalkan kekuatan sendiri.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). (*/Rizky)










