Peristiwa

Dari Wakil Presiden ke Ancaman Pemakzulan, Sara Duterte di Ujung Tanduk

×

Dari Wakil Presiden ke Ancaman Pemakzulan, Sara Duterte di Ujung Tanduk

Sebarkan artikel ini
Sara Duterte

EKSPOSTIMES.COM- Karier politik Sara Duterte mengalami perubahan drastis dalam waktu kurang dari tiga tahun. Dari kemenangan besar di pemilu 2022 bersama Ferdinand Marcos Jr., kini Wakil Presiden Filipina itu menghadapi ancaman pemakzulan. Tuduhan korupsi, penyembunyian kekayaan, hingga dugaan rencana pembunuhan terhadap Presiden Marcos dan keluarganya membuat posisinya di pemerintahan semakin goyah.

Mengutip Malay Mail, pada Rabu 5 Februari 2025, sebanyak 215 dari 306 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Filipina sepakat untuk memakzulkan Duterte. Ia didakwa atas berbagai pelanggaran serius, di antaranya: melanggar konstitusi, mengkhianati kepercayaan publik, korupsi dan penyalahgunaan anggaran, menyembunyikan kekayaan dengan asal-usul yang tidak jelas, keterlibatan dalam pembunuhan pengguna narkoba saat menjadi Wali Kota Davao, serta merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Marcos, Ibu Negara Liza Marcos, dan Ketua DPR Martin Romualdez.

Meski Presiden Marcos menyatakan tidak mendukung pemakzulan, proses ini tetap berjalan di bawah arahan Ketua DPR Martin Romualdez, yang merupakan sepupu Marcos.

Sejak awal pemerintahan mereka, hubungan Duterte dan Marcos tidak selalu harmonis. Duterte sempat meminta posisi Menteri Pertahanan, tetapi ditolak dan justru ditempatkan sebagai Menteri Pendidikan-jabatan yang dianggapnya kurang strategis.

Pada Juni 2024, Duterte mengundurkan diri dari kabinet di tengah dugaan penyalahgunaan anggaran. Ketegangan semakin meningkat ketika mantan Presiden Rodrigo Duterte, ayahnya, menyerang Marcos dengan menyebutnya “pecandu narkoba” serta menyerukan intervensi militer.

Pernyataan kontroversial Sara Duterte semakin memperburuk situasi. Dalam sebuah konferensi pers emosional, ia mengklaim menjadi target pembunuhan dan bahkan menyatakan bahwa jika dirinya terbunuh lebih dulu, ia telah memerintahkan pembunuhan Presiden Marcos, Ibu Negara, serta Ketua DPR. Pernyataan itu memicu gelombang kritik dan mempercepat pemakzulannya.

Pemakzulan kini berlanjut ke Senat, di mana 24 senator akan membentuk pengadilan untuk memutuskan nasib Duterte. Setidaknya 16 suara diperlukan untuk menyatakannya bersalah. Jika terbukti, ia akan dicopot dari jabatan dan dilarang memegang posisi publik di masa depan.

Meskipun pemakzulan tidak otomatis membuatnya dipenjara, Duterte tetap bisa menghadapi tuntutan pidana di pengadilan jika terbukti melakukan kejahatan.

Di tengah tekanan politik yang semakin besar, Duterte belum menyerah. Ia bahkan masih mempertimbangkan maju dalam pemilihan presiden 2028. Dukungan dari kelompok berpengaruh seperti Iglesia ni Cristo (INC) masih menjadi kekuatan politiknya. Bulan lalu, INC bahkan menggelar demonstrasi besar-besaran menolak pemakzulan Duterte.

Namun, menurut Jean Franco, pakar politik dari Universitas Filipina, popularitas Duterte terus menurun seiring dengan berbagai skandal yang menyeret namanya. Jika Senat memutuskan untuk memakzulkannya, ini bisa menjadi akhir dari dinasti politik Duterte yang telah lama mendominasi Filipina. (rizky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d