EKSPOSTIMES.COM – Malam kelam menyelimuti kediaman Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani di Jalan Mandar, Bintaro Sektor III, Tangerang Selatan, setelah rumahnya diserbu kelompok orang tak dikenal. Dua kali aksi penjarahan terjadi, pada Minggu (31/8) dini hari, pukul 00.30 WIB dan 03.30 WIB. Peralatan elektronik, pakaian, hingga lukisan digondol dari rumah sang bendahara negara.
Sri Mulyani akhirnya angkat suara. Melalui akun Instagram pribadinya @smindrawati, Senin (1/9), ia menuliskan ungkapan terima kasih sekaligus permintaan maaf.
“Terima kasih atas simpati, doa, kata-kata bijak, dan dukungan moral semua pihak dalam menghadapi musibah ini,” tulisnya seraya membagikan tangkapan layar pemberitaan tentang penjarahan tersebut.
Dalam unggahan itu, Sri Mulyani juga menegaskan sumpahnya sebagai pejabat negara untuk mengemban amanat UUD 1945 dan seluruh peraturan perundang-undangan. Ia menyinggung kerasnya perjuangan membangun bangsa yang tidak jarang penuh tantangan, terjal, dan bahkan berbahaya.
“Politik adalah perjuangan bersama untuk tujuan mulia kolektif bangsa, tetap dengan etika dan moralitas yang luhur,” tulisnya.
Sri Mulyani menekankan bahwa Indonesia memiliki sistem demokrasi yang memungkinkan masyarakat menempuh jalur hukum bila merasa haknya terlanggar. Judicial review ke Mahkamah Konstitusi, gugatan ke pengadilan, hingga kasasi di Mahkamah Agung, menurutnya, adalah jalan beradab yang harus ditempuh, bukan dengan anarki.
“Tugas kita terus memperbaiki kualitas demokrasi dengan beradab, tidak dengan intimidasi, anarki, atau represi,” ujarnya.
Di tengah penjagaan ketat aparat TNI AD, sebuah insiden menarik terjadi. Seorang pria datang ke rumah Sri Mulyani sekitar pukul 16.03 WIB, Minggu sore, sambil membawa sejumlah barang jarahan yang diklaim ditemukannya di jalan.
“Tadi ada mobil mainan, sama panci-pancian, gelas,” ucap pria itu. Ia mengaku menemukan barang-barang tersebut saat keramaian berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB.
Namun, aparat yang berjaga sempat meragukan keterangannya. Dari rekaman video, pria itu terlihat berlari sambil membawa barang pada saat aksi penjarahan. Polisi kini mendalami status hukum orang tersebut, apakah benar sekadar pengembali barang atau justru bagian dari kelompok pelaku.
Peristiwa penjarahan di rumah seorang menteri keuangan jelas mengguncang publik. Keamanan pejabat negara dipertanyakan, terlebih ketika insiden berlangsung dua kali dalam satu malam.
Sementara itu, Sri Mulyani memilih meredam kegaduhan dengan sikap tenang, menegaskan komitmennya menjaga demokrasi dan hukum, meski kediamannya sendiri menjadi korban tindak kriminal yang brutal. (det/tim)













