EKSPOSTIMES.COM- Polemik film animasi Merah Putih: One For All akhirnya dijawab langsung oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Di tengah derasnya kritik publik yang menilai film tersebut tak pantas menghiasi layar lebar, Ketua LSF Naswardi memastikan, dari sisi aturan sensor, film ini “bersih” dan layak tayang di bioskop.
“Penilaian kami mengacu pada Permendikbud Nomor 14 Tahun 2019. Ada dua aspek yang menjadi dasar: acuan utama dan acuan pendukung,” ujar Naswardi, Kamis (14/8/2025).
Ia menjelaskan, acuan utama mencakup tema, konteks, dan nuansa atau drama. Sedangkan acuan pendukung meliputi judul film, dialog atau monolog, visualisasi, hingga terjemahan.
Tak kalah penting, LSF juga memeriksa ada tidaknya unsur kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, atau diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
Baca Juga: Han So Hee dan Choi Min Sik Bintangi Adaptasi Korea Film “The Intern”
“Di film ini semuanya nihil. Jadi kami terbitkan surat tanda lulus sensor. Kalau soal rating kualitas buruk, sedang, atau bagus itu bukan wilayah kami, tapi ranah kritik film dan penikmatnya,” tegas Naswardi.
Pernyataan ini datang di tengah sorotan tajam terhadap kualitas sinematografi Merah Putih: One For All. Beberapa kreator dan penikmat film menilai, dengan biaya produksi yang kabarnya menembus Rp6,7 miliar, hasil akhirnya tidak sesuai ekspektasi.
Adegan, detail gambar, dan animasi disebut-sebut jauh dari standar film animasi internasional maupun lokal yang berkualitas tinggi.
Namun bagi LSF, persoalan estetika dan teknis bukan tolok ukur kelayakan tayang. “Intinya, dari sisi visualisasi, film ini tidak mengandung pelanggaran konten. Maka kami nyatakan layak tayang,” ujar Naswardi menegaskan kembali.
Baca Juga: Keluarga Besar Kodim Minahasa Rame-rame Nonton Film “BELIEVE“
LSF bahkan menetapkan film ini untuk semua klasifikasi umur. Artinya, anak-anak hingga orang dewasa bisa menonton tanpa batasan usia. Keputusan ini sekaligus memastikan Merah Putih: One For All hadir di layar bioskop mulai hari ini, Kamis (14/8/2025), bertepatan dengan momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80.
Meski kritik terus mengalir, film bertema kemerdekaan ini diharapkan dapat tetap menyampaikan pesan patriotisme kepada penontonnya.
Publik kini menunggu, apakah film yang menuai perdebatan ini akan tetap mendapat tempat di hati masyarakat atau justru menjadi catatan pahit di industri animasi Indonesia. (*/tim)








