Peristiwa

Burung Maut Mengudara: Enam B-2 AS Bergerak, Fordow Iran Terancam Hancur

×

Burung Maut Mengudara: Enam B-2 AS Bergerak, Fordow Iran Terancam Hancur

Sebarkan artikel ini
Enam pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik Angkatan Udara Amerika Serikat terbang dalam formasi malam hari dari Pangkalan Udara Whiteman, Missouri.
Enam unit pesawat pengebom siluman B-2 Spirit terlihat lepas landas dari Pangkalan Udara Whiteman di Missouri, Sabtu malam (21/6/2025), sebagai bagian dari potensi operasi ofensif terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow.

EKSPOSTIMES.COM- Langit Missouri memekat oleh raungan mesin ketika enam pesawat pengebom siluman B-2 Spirit lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Sabtu (21/6/2025) malam waktu setempat.

Diam-diam namun pasti, keenam burung maut itu membelah malam dengan satu tujuan yang belum diumumkan secara resmi: Guam. Namun, dunia tahu, aroma perang tengah menyelimuti kawasan Timur Tengah  dan Amerika Serikat kembali berada di ambang keputusan bersejarah.

Baca Juga: Balas Serangan Rudal ke Tel Aviv, Israel Gempur Jantung Pertahanan Iran

Langkah dramatis ini dilakukan saat Washington mempertimbangkan untuk bergabung dengan Israel dalam konflik bersenjata melawan Iran, yang semakin memanas sejak serangan balasan terakhir Teheran terhadap instalasi militer di Haifa.

Enam B-2 itu diyakini membawa senjata pemusnah yang sangat spesifik bom “Bunker Buster” GBU-57, satu-satunya senjata yang dianggap mampu menembus kedalaman situs nuklir paling tersembunyi milik Iran di Fordow.

Dikutip dari Fox News, bahwa pesawat-pesawat itu sempat melakukan pengisian bahan bakar di udara, indikasi bahwa mereka diluncurkan dalam kondisi berbobot penuh kemungkinan besar akibat muatan dua bom seberat 15 ton di setiap pesawat. Bagi para pengamat militer, ini bukan hanya misi rutin, melainkan manuver kesiagaan tingkat tinggi.

Mark Dubowitz, CEO lembaga think-tank Foundation for Defense of Democracies, menegaskan bahwa hanya Amerika yang memiliki kapabilitas untuk menghancurkan situs Fordow dari udara.

“Ini bukan sekadar operasi militer biasa. Ini adalah pencegahan terhadap perang nuklir,” katanya.

Bom GBU-57, menurut Jonathan Ruhe dari JINSA, dirancang untuk menembus lapisan batu, tanah, dan beton sebelum meledak di kedalaman yang menghancurkan. Tapi efektivitasnya terhadap Fordow yang dibangun dalam gunung setebal puluhan meter masih jadi bahan perdebatan.

Presiden Donald Trump, yang kini kembali menempati Gedung Putih untuk masa keduanya, dikabarkan belum membuat keputusan final soal keterlibatan AS.

“Trump masih ragu. Ia ingin keyakinan penuh bahwa serangan ke Fordow akan berhasil, jika memang harus dilakukan,” ungkap seorang pejabat Gedung Putih

Trump dijadwalkan menerima pengarahan intelijen penuh dari Dewan Keamanan Nasional sepanjang akhir pekan ini. Namun tensi sudah membumbung tinggi sejak pernyataan Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang sebelumnya menyebut tidak ada bukti Iran sedang membangun senjata nuklir.

Pernyataan itu kemudian diralat Gabbard, menuduh media memelintir ucapannya. “Iran sudah sangat dekat. Presiden Trump dan saya sepakat: kita tidak bisa membiarkan ini terjadi,” tulis Gabbard di platform X.

Baca Juga: Situasi Makin Mencekam! Negara-Negara Kompak Minta Warganya Angkat Kaki dari Israel dan Iran

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS telah menjatuhkan sanksi baru terhadap delapan perusahaan dan satu individu yang terlibat dalam pengadaan teknologi militer dari China untuk Iran.

Kini dunia menahan napas. Apakah iring-iringan siluman B-2 itu pertanda gempuran besar akan segera dimulai? Atau hanya gertakan senyap Washington untuk memaksa Teheran mundur dari jurang nuklir?

Satu hal pasti malam ini langit Pasifik tak lagi damai. Dan sejarah, sekali lagi, menanti dalam ketegangan. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d