EKSPOSTIMES.COM- “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Keluaran 23:1
Di zaman digital ini, informasi menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya. Hanya dengan sekali klik, sebuah kabar bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Namun sayangnya, tidak semua informasi yang beredar adalah kebenaran.
Banyak kabar bohong atau hoaks yang tersebar luas, dan tak jarang, orang-orang Kristen ikut terjebak dalam pusaran itu, baik sebagai penyebar maupun pendukung diam-diam.
Baca Juga: Tuhan Mendengar Jerit Orang Miskin, Apakah Kita Mendengarnya? (Keluaran 22:21–27)
Firman Tuhan dalam Keluaran 23:1 memberi peringatan yang sangat jelas dan kuat: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Ini bukan sekadar nasihat etis, tetapi perintah ilahi. Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk menjadi pembawa kebenaran, bukan pembawa dusta.
Kabar bohong menghancurkan kepercayaan. Dalam komunitas mana pun keluarga, gereja, masyarakat kepercayaan adalah fondasi utama. Sekali sebuah kebohongan menyebar, meskipun akhirnya diklarifikasi, dampaknya sudah telanjur merusak.
Nama baik bisa hancur. Relasi bisa putus. Orang yang tidak bersalah bisa menderita. Dalam dunia hukum, menjadi “saksi yang tidak benar” dapat mengubah hidup seseorang secara drastis. Dalam dunia rohani, itu mencoreng nama Allah yang kita wakili.
Menyebarkan kabar bohong seringkali terjadi bukan karena niat jahat, tetapi karena kelalaian. Betapa seringnya kita membagikan sebuah berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Kita melihat berita yang menggemparkan, lalu tanpa pikir panjang langsung klik “share.” Kita menjadi bagian dari rantai dusta tanpa sadar.
Firman Tuhan kita saat ini mengingatkan kita untuk tidak menjadi pembela orang yang bersalah, apalagi dengan memberikan kesaksian palsu. Dunia sering kali memutarbalikkan fakta demi kepentingan tertentu.
Dalam konteks sosial maupun spiritual, kita dipanggil untuk tidak ikut-ikutan arus dunia. Tuhan menuntut umat-Nya untuk berdiri di atas integritas, meski itu berarti harus berbeda dari mayoritas.
Menariknya, Alkitab banyak mencatat akibat fatal dari kabar bohong. Ingat bagaimana Yesus difitnah dengan kesaksian palsu oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan-Nya (Matius 26:59-61)? Kebohongan digunakan untuk tujuan yang “dibungkus” dengan alasan baik, tetapi pada akhirnya, kebohongan tetaplah kebohongan. Tidak ada dusta yang memuliakan Tuhan, sekalipun niat awalnya tampak mulia.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi terang dan garam dunia (Matius 5:13-14). Artinya, kita tidak hanya diminta untuk tidak menyebarkan dusta, tetapi juga aktif melawan ketidakbenaran. Kita harus belajar berkata “tidak” pada gosip, pada berita tanpa sumber jelas, dan pada narasi yang dibuat-buat demi keuntungan sesaat.
Menjadi saksi yang benar berarti siap menyuarakan kebenaran meskipun tidak populer. Dunia mungkin akan mencemooh, tetapi Tuhan berkenan pada hati yang jujur dan mulut yang bersih dari tipu daya.
Bayangkan dampaknya jika setiap orang Kristen benar-benar taat pada Keluaran 23:1. Dunia maya akan lebih damai, lingkungan kerja akan lebih sehat, gereja akan lebih kuat, dan masyarakat akan lebih adil. Semua itu dimulai dari satu keputusan kecil: tidak menyebarkan kabar bohong.
Mari kita periksa diri. Sudahkah kita menjadi pelayan kebenaran dalam setiap percakapan, baik lisan maupun digital? Ataukah kita tanpa sadar menjadi bagian dari penyebar kabar yang menyesatkan?
Ingat, di hadapan Tuhan, setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertanggungjawaban (Matius 12:36). Maka, biarlah setiap kata, tulisan, dan tindakan kita mencerminkan karakter Kristus sang Kebenaran itu sendiri. (Rizky)











