Peristiwa

KMP Fery Tao Toba Disorot Usai Pengeroyokan Wartawan dan Keluarga di Samosir

×

KMP Fery Tao Toba Disorot Usai Pengeroyokan Wartawan dan Keluarga di Samosir

Sebarkan artikel ini
KMP Fery Tao Toba bersandar di dermaga Samosir dengan petugas keamanan berjaga pascakejadian pengeroyokan
KMP Fery Tao Toba menjadi sorotan setelah insiden pengeroyokan terhadap seorang wartawan dan keluarganya di atas kapal saat pelayaran menuju Samosir. Kasus ini kini tengah diselidiki pihak kepolisian.

EKSPOSTIMES.COM- Pulau Samosir, yang berada di jantung Danau Toba dan masuk dalam kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) nasional, kembali tercoreng oleh insiden yang mengusik rasa aman pengunjung.

Kali ini, seorang wartawan asal Kota Medan bersama keluarganya menjadi korban dugaan kekerasan oleh sejumlah kru KMP Fery Tao Toba yang dikelola oleh PT Gunung Hijau Megah (GHM) di Pelabuhan Tomok, pada Minggu malam (21/7/2025) sekitar pukul 21.00 WIB.

Korban, SS, wartawan dari salah satu media online nasional, menyampaikan bahwa ia dan keluarganya termasuk kedua orangtuanya mengalami pengeroyokan brutal oleh para kru kapal hanya karena memprotes sistem antrean penyeberangan yang semrawut.

Ia tak pernah menyangka bahwa niat menyampaikan keluhan bisa berujung pada kekerasan fisik yang melukai fisik dan hati.

“Kami dipukul, dikeroyok secara membabi buta, hanya karena protes sistem masuk kapal yang tidak tertib. Mobil-mobil saling berebut, tidak ada pengaturan yang jelas. Saat saya menyampaikan keberatan, seorang kru langsung marah-marah dengan nada tinggi, lalu menarik kerah baju saya. Setelah itu, beberapa kru langsung mengeroyok saya. Orangtua saya yang berusaha melerai, juga terkena pukulan,” ujar SS.

Kejadian tersebut tidak hanya membuat korban dan keluarganya menderita luka fisik seperti memar dan luka di bibir, tetapi juga mendapat perlakuan tidak manusiawi. Mereka diusir dari pelabuhan dan tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan menuju Medan.

Laporan resmi telah dibuat di Polsek Simanindo, dan pihak kepolisian telah memanggil kru KMP Fery Tao Toba untuk proses mediasi. Namun, insiden ini menyisakan pertanyaan besar ke mana arah pengelolaan layanan publik di titik-titik vital pariwisata seperti Samosir?

Di tengah upaya besar pemerintah daerah dan pusat mempromosikan Danau Toba sebagai pusat pariwisata unggulan Indonesia, peristiwa ini justru menjadi antitesis dari visi yang diusung. Layanan penyeberangan kapal yang seharusnya menjadi pintu gerbang keramahtamahan, justru menjadi lokasi kekerasan.

Manajemen PT. Gunung Hijau Megah, selaku operator KMP Fery Tao Toba yang dimiliki mendiang OTB Sitanggang, didesak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perilaku kru dan memberikan pelatihan pelayanan berbasis humanisme. Penanganan pelanggan bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut etika dan penghargaan terhadap sesama.

Jika tidak segera ditangani secara serius, bukan hanya luka korban yang tidak sembuh, tapi juga luka reputasi destinasi wisata Samosir. Kejadian ini harus menjadi alarm keras, bahwa pariwisata tidak bisa tumbuh di atas pelayanan yang kasar dan manajemen yang abai.

Danau Toba tidak hanya butuh promosi. Ia butuh perlindungan terhadap para tamu yang datang, perlakuan profesional dari seluruh pelayan wisata, serta rasa aman dari titik keberangkatan hingga tujuan. (Salmon Sihombing)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d