EKPOSTIMES.COM- Menulis bagiku adalah bagian hidupku. Menuangkan isi pikiran dalam tulisan merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Saat ini saya pun bekerja sebagai staff di salah satu penerbitan Kristen.
Sama seperti menuangkan pikiran ke dalam tulisan, saya memperoleh sudut pandang yang baru. Demikian juga saat kita mencurahkan isi hati kita kepada Allah dalam doa, itu menolong kita mendapatkan sudut pandang Allah dan mengingatkan kita atas kuasaNya.
Raja Hizkia melakukannya setelah menerima surat menggetarkan dari musuhnya. Kerajaan Asyur mengancam untuk menghancurkan Yerusalem seperti yang telah mereka lakukan terhadap banyak kerajaan lain.
Hizkia membentangkan surat itu di hadapan Tuhan, dan di dalam doa, ia berseru kepadaNya untuk membebaskan rakyatnya. Hizkia selalu mengakui kedaulatan Allah sampai kondisi dimana seolah-olah tidak ada lagi pengharapan (ayat 15- ayat 18).
Seperti yang kita lihat setelah ia membaca surat ancaman dari Sanherib, ia meletakkan permasalahannya di hadapan Allah, sebab hanya pada Dia yang berdaulat ada pengharapan sejati (ayat 14, ayat 19).
Motivasi yang mendorong dia untuk terlepas dari segala ancaman bukan semata-mata untuk kebahagiaan dirinya dan rakyatnya, melainkan agar kedaulatan Allah yang sudah ia akui, diakui juga oleh bangsa-bangsa lain (ayat 19).
Berkat yang ia terima akan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Karena ia telah dan selalu mengakui kedaulatan Allah dalam setiap kehidupannya, maka Allah berkenan `membayar’ dia dengan harga yang sangat mahal yaitu keselamatan bagi dirinya dan kerajaannya (ayat 35- ayat 37).
Ketika kita dihadapi pada satu situasi yang sulit. Situasi yang membuat kita takut, cemas atau semakin menyadari bahwa kita tidak sanggup mengatasinya. Marilah ikut jejak Hizkia dengan segera datang di hadapan Allah. (*)











Respon (1)