EKSPOSTIMES.COM- Leicester City kembali terjerembab ke dalam jurang keterpurukan setelah dihancurkan Brentford 0-4 di Stadion King Power, Jumat malam. Kekalahan telak ini tidak hanya memperpanjang rekor buruk mereka di kandang, tetapi juga semakin menegaskan bahwa harapan bertahan di Premier League semakin menipis.
Pertandingan nyaris selesai sebelum sempat benar-benar dimulai. Brentford tampil dominan dan langsung mencetak tiga gol dalam 32 menit pertama melalui Yoane Wissa, Bryan Mbeumo, dan Christian Norgaard. Fabio Carvalho melengkapi penderitaan Leicester dengan gol keempat di babak kedua, membuat ribuan suporter tuan rumah meninggalkan stadion lebih awal.
Bagi Leicester, kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, tetapi juga memperpanjang rekor memalukan. Enam kekalahan kandang beruntun tanpa sekalipun mampu mencetak gol, sebuah catatan kelam yang belum pernah mereka alami sebelumnya di kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Ruud van Nistelrooy, yang ditunjuk sebagai pelatih pada akhir November untuk menggantikan Steve Cooper, tampaknya mulai kehilangan harapan. Setelah sempat mengantongi empat poin dari dua laga awalnya, performa Leicester justru merosot tajam dengan 10 kekalahan dalam 11 pertandingan terakhir.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Van Nistelrooy tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya.
“Kami harus menerima kenyataan bahwa setiap pekan kami berhadapan dengan tim yang lebih baik. Kami hanya bisa berusaha tampil maksimal dengan sumber daya yang ada. Dengan skuad ini, bertahan di Premier League adalah tantangan yang sangat besar,” katanya.
Pelatih asal Belanda itu juga menegaskan bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap timnya tidaklah realistis.
“Ketika kami melakukan kesalahan dan tidak berada dalam performa terbaik, lawan seperti Brentford menjadi terlalu tangguh bagi kami. Tidak adil untuk berharap lebih. Kami hanya bisa berusaha semampu kami dan melihat apakah itu cukup untuk bertahan,” sebutnya.
Kekalahan ini semakin memperburuk hubungan antara klub dan para pendukungnya. Suasana di Stadion King Power berubah menjadi penuh kemarahan, dengan para suporter melontarkan protes keras terhadap direktur sepak bola Jon Rudkin dan menyerukan pemecatan dewan direksi.
Di lapangan, Jamie Vardy hampir saja memberi sedikit harapan bagi Leicester, tetapi upayanya digagalkan oleh kiper Brentford, Mark Flekken. Itu menjadi satu-satunya momen di mana tuan rumah terlihat sedikit mengancam.
Dengan hanya terpaut dua poin dari zona aman, Leicester masih memiliki peluang untuk selamat. Namun, dengan performa seperti ini, pertanyaan besar muncul: apakah mereka mampu membalikkan keadaan sebelum terlambat, atau justru semakin tenggelam dalam krisis?. (*/Riz)













