EKSPOSTIMES.COM- Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprediksi 1 Ramadhan 1447 Hijriah yang menjadi acuan pemerintah berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026. Prediksi ini membuka peluang terjadinya perbedaan awal puasa, menyusul perbedaan kriteria penentuan hilal yang digunakan sejumlah organisasi Islam.
Thomas menjelaskan, pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang selama ini dijadikan rujukan pemerintah.
“Ketinggian hilal belum mencapai 3 derajat dan elongasinya belum 6,4 derajat. Karena itu, secara astronomis, kriteria MABIMS belum terpenuhi di Indonesia,” kata Thomas dalam tayangan di kanal YouTube miliknya, Sabtu (20/12) lalu.
Dengan kondisi tersebut, awal Ramadhan menurut kriteria MABIMS baru memenuhi syarat pada pengamatan berikutnya, sehingga 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026.
Namun, Thomas menambahkan, sebagian organisasi Islam menggunakan kriteria berbeda, seperti kriteria Turki. Berdasarkan kriteria ini, hilal dinilai sah apabila memiliki ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Pada 17 Februari 2026, kriteria tersebut telah terpenuhi di wilayah Amerika, termasuk Alaska.
“Karena itu, dengan kriteria Turki, awal Ramadhan bisa ditetapkan pada 18 Februari 2026,” ujar Thomas.
Ia menegaskan, perbedaan kriteria ini berpotensi memunculkan dua tanggal awal Ramadhan, yakni 18 dan 19 Februari 2026.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan data astronomis yang memperkuat prediksi tersebut. Dalam laman resminya, BMKG mencatat ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berada pada kisaran -2,41 derajat di Jayapura hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat. Angka ini masih jauh di bawah ambang batas MABIMS.
Pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal meningkat signifikan, berkisar antara 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang. Elongasi hilal pada tanggal yang sama juga mencapai 10,7 derajat hingga 12,21 derajat, melampaui syarat minimum MABIMS.
Penentuan awal Ramadhan di Indonesia tetap berada di tangan pemerintah melalui Kementerian Agama. Meski perhitungan astronomi dapat dilakukan jauh hari, pemerintah akan memverifikasi posisi hilal melalui rukyat di berbagai daerah dan menetapkannya secara resmi dalam sidang isbat menjelang Ramadhan. (cnn)










