Renungan

Jangan Ulangi Luka yang Sama (Keluaran 22:21)

×

Jangan Ulangi Luka yang Sama (Keluaran 22:21)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kasih dan keadilan Allah yang melindungi orang asing, berdasarkan Keluaran 22:21
Gambar ini menggambarkan makna mendalam dari Keluaran 22:21, yang menyerukan belas kasih terhadap orang asing sebagai refleksi dari pengalaman umat Israel di Mesir.

EKSPOSTIMES.COM- “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” — Keluaran 22:21 (TB)

Dalam perjalanan hidup, ada kecenderungan manusia untuk melupakan masa lalu, terutama masa lalu yang penuh kesulitan. Ketika seseorang telah mencapai posisi aman, dihormati, dan merasa mapan, godaan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain muncul tanpa disadari. Inilah latar belakang teguran Tuhan kepada bangsa Israel: jangan pernah menindas orang asing, sebab mereka sendiri pernah menjadi orang asing di tanah Mesir.

Firman ini bukan sekadar perintah moral, tetapi juga pengingat identitas. Tuhan sedang membentuk karakter umat-Nya agar tidak menjadi seperti bangsa penindas yang pernah menyakiti mereka. Mengalami penindasan bukan alasan untuk menjadi penindas baru, tetapi panggilan untuk memahami penderitaan sesama.

Baca Juga: Menghormati Orangtua: Harga yang Terlupakan di Tengah Dunia yang Bising (Keluaran 21:15-17, TB)

Dalam konteks zaman sekarang, istilah “orang asing” mencakup makna yang lebih luas. Bukan hanya orang dari suku atau negara lain, tetapi juga mereka yang berada di luar lingkaran kenyamanan kita: pendatang di kota besar, pekerja informal, minoritas yang terlupakan, atau bahkan mereka yang berbeda pandangan dan latar belakang.

Kita dipanggil untuk memperlakukan mereka bukan dengan kecurigaan atau jarak, melainkan dengan empati yang lahir dari kesadaran bahwa kita pun dulu ada di posisi serupa—mencari tempat, penerimaan, dan pengharapan.

Renungan ini menantang setiap pembaca untuk menengok ke belakang dan bertanya: kapan terakhir kali aku merasa asing, tidak diterima, atau diabaikan? Ketika kita mengingat masa-masa sulit itu, seharusnya hati kita lebih lembut terhadap orang lain yang sedang mengalami hal serupa. Namun kenyataannya, tidak jarang kita menjauh dari mereka yang “asing,” menciptakan jarak karena takut terganggu, takut terseret masalah, atau karena merasa lebih baik.

Ironisnya, kita hidup di zaman yang katanya semakin terkoneksi, tetapi justru semakin membangun tembok sosial. Komunitas-komunitas tertutup tumbuh di mana-mana, hanya menyambut yang “sama” dan menolak yang “berbeda.” Gereja pun bisa jatuh ke dalam jebakan ini—lebih tertarik pada kenyamanan komunitas sendiri daripada menjadi rumah bagi yang terluka dan tersingkir.

Keluaran 22:21 adalah teguran yang relevan bagi kehidupan sosial kita saat ini. Tuhan tidak hanya peduli tentang cara kita beribadah, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama, terutama yang rentan. Hukum ini hadir sebagai fondasi kehidupan sosial umat Tuhan. Tuhan sedang menanamkan bahwa kehidupan yang setia kepada-Nya tidak bisa dipisahkan dari kepedulian kepada sesama.

Perintah ini juga menunjukkan sisi keadilan dan kasih Allah. Dia tidak mengabaikan suara orang kecil. Dia adalah Allah yang berpihak kepada yang tertindas. Maka ketika umat-Nya menindas orang asing, mereka tidak hanya melanggar hukum sosial, tapi juga menghina karakter Allah yang penuh kasih dan keadilan.

Lebih dari sekadar larangan untuk tidak menindas, ayat ini mengajak kita membangun sikap inklusif dan penuh welas asih. Apakah kita bersedia menjadi tempat aman bagi mereka yang merasa asing? Apakah kita bersedia mengulurkan tangan ketika melihat seseorang tersesat di tengah lingkungan yang asing? Atau justru kita ikut mempersempit ruang gerak mereka dengan prasangka dan penolakan halus?

Baca Juga: Kesetiaan yang Dituntut: Antara Allah yang Cemburu dan Dunia yang Menggoda, (Keluaran 20:2-6)

Mengingat bahwa kita pun dahulu orang asing seharusnya membentuk cara kita hidup hari ini. Ingatan itu tidak boleh dihapus, melainkan dijaga sebagai fondasi belas kasih yang nyata. Sebab kasih yang sejati lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari pemahaman mendalam tentang penderitaan.

Mereka yang pernah merasakan menjadi asing seharusnya menjadi yang paling peka terhadap suara yang tak terdengar. Jika kita sungguh ingat siapa kita dulu, kita tidak akan tega mengulangi luka yang sama terhadap orang lain hari ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d