EKSPOSTIMES.COM- “Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati. Siapa yang menculik seorang manusia… ia pasti dihukum mati. Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati.” (Keluaran 21:15-17, TB)
Tuhan menunjukkan sesuatu yang sangat serius: betapa pentingnya penghormatan terhadap sesama, terutama terhadap orangtua dan nilai kehidupan manusia. Di zaman modern ini, nilai-nilai tersebut sering kali dianggap usang—padahal, Alkitab justru menekankan bahwa hal-hal ini adalah fondasi moral yang tidak bisa dinegosiasi.
Baca Juga: Kesetiaan yang Dituntut: Antara Allah yang Cemburu dan Dunia yang Menggoda, (Keluaran 20:2-6)
Ayat ini terdengar keras. Bahkan bisa mengejutkan telinga kita. Hukuman mati untuk seseorang yang memukul atau mengutuki orangtuanya? Apa tidak terlalu ekstrem? Bukankah kasih Allah penuh pengampunan?
Kita perlu memahami konteksnya. Kitab Keluaran adalah bagian dari hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel di awal pembentukan mereka sebagai bangsa.
Tuhan sedang menanamkan tulang belakang moral bagi umat-Nya—suatu masyarakat yang berbeda dari bangsa-bangsa kafir di sekitarnya. Masyarakat yang menghargai hidup, menghormati orangtua, dan menolak perbudakan atau penculikan manusia.
Dalam budaya Yahudi, keluarga adalah fondasi utama masyarakat. Orangtua bukan hanya figur biologis, tetapi juga pemimpin rohani dan moral di rumah. Menghormati orangtua berarti menghormati otoritas Tuhan, karena merekalah wakil Tuhan pertama yang kita kenal di dunia ini.
Hari ini, kita melihat realita yang mengkhawatirkan. Banyak anak yang berbicara kasar kepada orangtuanya. Tidak sedikit yang menelantarkan orangtua mereka di usia lanjut.
Ada juga yang terang-terangan mengutuk atau menolak keberadaan orangtua karena alasan pribadi, trauma, atau perbedaan nilai. Meski tidak ada lagi hukuman mati seperti zaman Musa, hati Tuhan terhadap dosa semacam ini belum berubah. Ia tetap memandang serius setiap pelanggaran terhadap kasih dan hormat dalam keluarga.
Ayat 16 memperingatkan bahwa menculik manusia—untuk dijual atau untuk kepentingan pribadi—adalah kejahatan besar. Ini menyentuh isu perbudakan, eksploitasi, bahkan perdagangan manusia modern. Tuhan sangat membenci ketika seseorang memperlakukan sesamanya sebagai komoditas. Mengapa? Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Di tengah dunia yang semakin individualistis dan konsumtif, kita perlu bertanya ulang: Apakah aku memperlakukan orang lain dengan hormat? Apakah aku menghargai sesama, atau hanya melihat mereka sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi?
Baca Juga: Tuhan Tidak Mencari yang Hebat, Tapi yang Taat (Keluaran 19:5)
Namun, pesan Injil tidak berhenti pada ancaman hukuman. Melalui Yesus Kristus, kita melihat kasih karunia Allah yang luar biasa. Hukuman atas pelanggaran kita ditimpakan kepada-Nya di kayu salib. Yesus menanggung “hukuman mati” itu agar kita tidak binasa.
Namun kasih karunia bukanlah alasan untuk meremehkan hukum Allah. Sebaliknya, kasih karunia menguatkan kita untuk hidup dalam kebenaran. Kita tidak lagi tunduk pada hukum secara harfiah, tapi oleh Roh Kudus kita ditolong untuk menghormati orangtua, menghargai hidup orang lain, dan membangun masyarakat yang mencerminkan kerajaan Allah
Mungkin hari ini kita belum memukul atau menculik siapa pun. Tapi bagaimana sikap hati kita terhadap orangtua? Apakah kita mudah mengeluh, membentak, atau merasa lebih tahu dari mereka?
Tuhan memanggil kita untuk kembali kepada dasar-dasar kehidupan: kasih, hormat, dan penghargaan terhadap sesama. Mungkin itu berarti menelepon orangtua hari ini dan berkata, “Terima kasih.” Mungkin itu berarti mengampuni masa lalu dan memulai hubungan baru yang lebih sehat.
Tuhan tidak berubah. Kasih-Nya tetap, dan firman-Nya mengingatkan kita akan nilai-nilai kekal yang tak pernah basi. (*)










