EKSPOSTIMES.COM- Indonesia tengah berada di ambang lompatan besar menuju masa depan gemilang. Kuncinya? Penguatan sektor sains dan teknologi. Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dalam pernyataan resminya di Jakarta, Senin (19/5/2025).
Dengan penuh keyakinan, Wamen Stella menyampaikan bahwa transformasi nasional melalui sains dan teknologi bukan hanya memungkinkan, tapi sudah mulai dijalankan secara sistematis dan strategis.
“Indonesia siap berbenah dan melesat maju. Kami ingin menjadikan universitas sebagai poros kemajuan saintek nasional, pusat inovasi yang menggerakkan bangsa ke depan,” tegasnya.
Optimisme ini tak berdiri sendiri. Stella menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, dari pemerintah pusat dan daerah, institusi pendidikan tinggi, hingga mitra global dan pelaku industri.
Menurutnya, ekosistem riset harus dikembangkan dalam bingkai kolaborasi strategis, yang mampu memperkuat daya saing nasional di tengah arus globalisasi teknologi.
Salah satu fokus utama yang diangkat adalah pengembangan ekonomi biru (blue economy), selaras dengan visi jangka panjang pembangunan nasional atau Astacita, terutama butir ke-2 yang menekankan pentingnya sektor kelautan sebagai kekuatan ekonomi baru.
“Ekonomi biru sudah menjadi fokus dalam Astacita. Kita perlu riset-riset konkret dari kampus-kampus di seluruh Indonesia. Ini adalah kekuatan tersembunyi yang harus diungkit,” ujar Stella.
Ia mencontohkan Universitas Mataram di Nusa Tenggara Barat yang telah melakukan riset strategis pada lobster, rumput laut, dan gaharu, komoditas unggulan yang menjadi andalan dalam ekonomi kelautan berkelanjutan.
Dalam konteks riset rumput laut tropis, Wamen Stella menyoroti tantangan terbesar Indonesia: minimnya hilirisasi industri. Meski menjadi produsen utama di dunia, Indonesia belum maksimal dalam menciptakan nilai tambah dari hasil lautnya.
“Presiden sudah menegaskan, hilirisasi adalah prioritas bangsa. Kita tidak bisa lagi mengekspor bahan mentah. Kita harus jadi pemain utama dalam rantai nilai global,” tandasnya.
Dalam penutupnya, Stella menyerukan agar sektor sains dan teknologi tidak hanya diposisikan sebagai pendukung, melainkan sebagai tulang punggung pembangunan nasional.
“Tak ada negara maju tanpa sains dan teknologi yang kuat. Kita ingin bangun ekosistem riset yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tapi juga berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya tegas.
Ia pun menegaskan bahwa jargon “Diktisaintek Berdampak” bukan sekadar slogan, tetapi arah kerja nyata menuju Indonesia sebagai kekuatan baru saintek global. (tim)








