EKSPOSTIMES.COM- Suasana sakral dan penuh haru menyelimuti Gereja Bethany Mokupa, Minahasa, pada Minggu (22/6/2025) saat acara pelantikan dan pengutusan Gembala digelar. Namun sorotan utama tak hanya tertuju pada prosesi rohani itu, melainkan pada pesan kuat yang disampaikan Senator RI, Dr. Maya Rumantir MA, Ph.D.
Dalam kesempatan tersebut, Maya tidak sekadar memberikan sambutan, tetapi menyuarakan suara kenabian yang menggugah nurani para hamba Tuhan, jemaat, dan masyarakat luas. Ia menekankan bahwa seorang pelayan Tuhan bukan hanya pengkhotbah di mimbar, tetapi harus menjadi khotbah hidup lewat tindakan dan perilaku sehari-hari.
“Hamba Tuhan harus menjadi contoh moral dalam segala aspek kehidupan, sebab kotbah hidup adalah perilaku keseharian kita,” tegas Maya, di hadapan jemaat yang memenuhi ruang ibadah.
Pesannya jelas dan menohok gereja bukan panggung sandiwara, dan hamba Tuhan bukan aktor religius. Maya mengingatkan bahwa jabatan rohani membawa tanggung jawab yang dalam dan tidak boleh dicemari oleh kepentingan pribadi atau sikap tidak pantas, terutama dalam lingkup keluarga.
“Banyak kejadian, seorang hamba Tuhan tercemar pelayanannya bukan karena dirinya, tapi karena istri, suami, atau anak-anak yang belum dimenangkan. Maka menangkan dulu keluarga, baru bisa memenangkan orang lain,” ungkapnya.
Maya juga mengingatkan pentingnya hidup dalam kesederhanaan, namun penuh pengharapan. Menurutnya, hidup sederhana bukan berarti miskin, melainkan hidup dalam rasa cukup dan bersandar pada kuasa Allah.
“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6). Gumuli terus kebutuhan, bukan keinginan daging. Tuhan akan bukakan tingkap-tingkap langit bagi yang berserah dan bersandar pada-Nya,” ujar Maya, dengan nada suara yang bergetar.
Tak hanya itu, Maya menekankan peran penting hamba Tuhan dalam menyuarakan keadilan sosial. Ia menyebut, jika ada jemaat yang mengalami kriminalisasi atau perlakuan tak adil, seorang gembala tak cukup hanya berdoa di balik mimbar.
“Hamba Tuhan harus berani menyuarakan suara kenabian! Jangan hanya mendoakan dari kejauhan hadir, dampingilah! Itu bentuk kasih nyata,” ujarnya penuh semangat.
Gembala Victor Tambahani, yang dilantik dalam ibadah tersebut, tak dapat menyembunyikan rasa haru. Dalam sambutannya, ia menyebut Maya sebagai inspirasi yang telah ia kagumi selama lebih dari 15 tahun.
“Beliau adalah teladan dalam pelayanan. Konsistensinya luar biasa. Tidak memandang besar atau kecilnya gereja, asal nama Tuhan Yesus dimuliakan, beliau pasti datang dan menyapa,” ungkap Victor dengan mata berkaca-kaca.
Acara yang berlangsung hikmat itu diakhiri dengan penumpangan tangan, pujian syukur, dan pengutusan. Di tengah tantangan zaman yang kian berat, pesan Maya Rumantir terasa bagaikan alarm rohani bahwa hamba Tuhan sejati bukan hanya berkhotbah, tapi hidup dalam khotbah. (rizkypurukan)









